[AbaTabee] Pemimpin Kumaha Saena

Friday, January 25, 2013

Metode Kepemimpinan Pertempuran menjadi salah satu buku yang sedang saya baca akhir - akhir ini. salah satu poin penting dari buku itu diungkapkan bahwa seorang pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan, dibentuk oleh lingkungan dan budaya dimana individu itu berada. Diungkap dalam bacaan saya itu kalau seseorang yang pernah menjadi pemimpin medan pertempuran maka dia akan berhasil dalam mengatasi berbagai permasalahan kepimimpinan di bidang-bidang lain, karena saat bertempur, hingga saat ini masih diyakini oleh banyak orang, dimana saat itu merupakan tahap ujian terbesar bagi seorang pemimpin, ada benarnya juga, meski saya tidak percaya mutlak terhadap pemikiran tersebut. 
Adalagi salah satu metode kepemimpinan yang selalu di koar-koar pada saat apel pagi oleh Bapak Profesor yaitu metode kepemimpinan permusuhan. Menurutnya metode ini pada intinya adalah Beliau sebagai atasan akan memusuhi orang-orang yang tidak bekerja dengan baik, yang tidak well performed, dan sepertinya arti dari kata memusuhinya pa profesor adalah dengan mengacuhkannya, menganggap orang tersebut tidak ada dalam kehidupan kerja nya yang memang 24 jam itu (kaya circle q aja nya). cara itu menurut saya terasa akan lebih kejam buat orang - orang timur, sunda khususnya, yang begitu banyak mengedepankan tata titi dalam ber tatakrama dan berbahasa. 
Namun kembali kalau saya boleh berpendapat, saya tidak sepemikiran dengan 2 model kepemimpinan diatas. Yang pertama, saya (entah kenapa) masih percaya bahwa pemimpim itu dilahirkan bukan dibentuk. Kemudian, tidak ada jaminan bahwa seseorang yang telah berhasil memimpin perang di medan pertempuran dapat begitu saja menjadi pemimpin di sektor lain dengan mudah. Karena ada perbedaan mendasar yang harus digarisbawahi yaitu tentang spirit pegawai dan adanya garis komando antara Pemimpin (Komandan) dengan anak buah (Prajurit). Hal tersebut menjadi penting karena nilai semangat anak buah dan pimpinan menjadi titik penggerak suatu organisasi/perusahaan/instansi. 
Terlebih lagi jika menukik ke dalam konteks kepemimpinan di pemerintah (daerah). Seni memimpin akan menjadi lebih kompleks lagi karena harus dapat menembus sekat-sekat budaya yang menempel di setiap individu di instansi pemerintah tersebut, seperti sekat senioritas, sekat mayoritas, minoritas, dan sekat kekerabatan yang begitu kental. 
Yang kedua, sangat menentang metode kepemimpinan permusuhan, karena dengan merasakan implementasi yang terjadi saat ini, batasan antara pekerjaan dengan sosialitas terlalu bias untuk dapat dipisahkan, sehingga konflik yang terjadi di dalam pekerjaan (biasanya) akan terbawa kedalam lingkungan kita bermasyarakat, atau gampangnya, jika kita ber sitegang, beradu pendapat atau terdapat ketidaksepahaman dalam suatu hal di pekerjaan, idealnya tidak berpengaruh ke dalam standar hubungan sosial yang lakukan di luar kantor, tapi pada kenyataannya hal itu pasti akan terbawa ke dalam lingkungan sosial di masyarakat dimana kita berinteraksi.
Lalu kalau ditanyakan, apa metode kepemimpinan yang saya sukai ? saya tahu jawabannya, tapi jujur sampai saat ini saya belum tahu, termasuk ke dalam metode apa tipe kepemimpinan yang saya sukai itu, atau sebut saja dulu, metode kepemimpinan "Kumaha Saena" saja dulu ya.  Mungkin kalau suatu hari saya tahu namanya, akan saya sharing lagi di lain waktu. 
udah ah, apel pagi heula !!


Sumber: http://abatabee.blogspot.com/2013/01/pemimpin-kumaha-saena.html

[AbaTabee] ROBOT mode ON

Wednesday, January 23, 2013

Sudah hampir 2 bulan terakhir..........waktu begitu tersita oleh aktivitas super padat......jadi tanpa disadari, sejak bulan oktober kemaren, tubuh sudah diseting menjadi Mode Robot, dimana tubuh hanya dianggap sebuah benda mekanis, tanpa hati, tanpa rasa, tanpa "kacape.....".

Betul, kalau ditanya dengan pendapatan yang diperoleh, sepertinya memang sebanding dengan penghasilan tambahan yang diperoleh, hanya saja, yaitu, sepertinya tidak gampang untuk bergerak melaksanakan aktivitas dengan mode "robot" seperti itu. Hanya menjalankan apa yang diperintahkan dan melaksanakan apa-apa yang dirasakan perlu, tidak ada penolakan, tanpa ada emosi didalamnya, hanya satu tujuan, bekerja dengan baik dan agar badan tidak terasa sakit.

Entah apa yang kukejar dengan bekerja seperti itu........hati ini masih terdapat pertentangan, karena mau tidak mau, suka tidak suka, rupanya hati kecil ini tetap bekerja dan seringkali menentang apa yang otak pikirkan.

dan kemudian, pada saat hari terakhir masuk kantor di tahun 2012....diumumkan lah suatu mutasi pegawai dan penambahan fungsi baru bagi subbagian dimana saya bekerja.........Gila !
Subbag kami seakan-akan dibebani suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh ROBOT sepanjang tahun, 12 bulan, 54 minggu. Entah saya sanggup untuk bekerja seperti itu atau tidak.........

Sudah sangat wajar apabila, di tahun baru ini, orang-orang mengungkapkan segala keinginannya, namun hal itu tidak berlaku buat seorang bela. Buat Bela, hanya ada doa dan harapan, tidak ada itu yang namanya keinginan, Meski terasa tipis bedanya, tapi antara harapan dan keinginan tetap saja berbeda. jadi, hanya dengan bersenjatakan doa dan harapan lah, saya dapat bertahan selama 3 tahun bekerja ini, ya, hanya dengan doa dan harapan, tidak ada keinginan. Karena ternyata, seringkali keinginan itu hanya berakibat rasa sakit hati dan penyesalan.

Satu harapan saya, semoga Allah memberikan hadiah-hadiah kejutan yang indah di dalam hidup saya di tahun 2013, karena hanya harapan dan doa lah yang menjadi darah di tubuh ini saat ini.......


*belum terlelap......*ngerjakeun PR keneh




[AbaTabee] Semangat Terbarukan

Asupan energi hari ini berawal dari satu buah alpukat (bukan jenis mentega) ditambah irisan gula merah, sebagai pengganti rasa tawar dengan rasa manis yang secukupnya. Entah kenapa, semalem waktu mencari oleh - oleh buat Tabee disalah satu swalayan depan kantor, hati tergerak membeli alpukat dan ternyata memang bener, alpukatnya bagus, harganya kalo tidak salah 19.800 per kg. Saya ambil 5 buah, dan ditimbang dengan berat 1,6 kg, jadilah harganya 28 ribuan. 
Mungkin, alpukat ini adalah alpukat pertama yang saya makan dalam 2 bulan terakhir ini, kenapa ? ya karena takut gendut heuheu. Alhamdulillah, berat badan ini sudah turun hampir 8 kg dalam 2 bulan terakhir. Berat badan saat ini sudah 71 kg. Dengan tinggi yang umumnya orangnya Indonesia tinggi 165 cm, dengan berat seperti itu, kayanya masih tetep dibilang gendut atau over weight :). Semangatnya satu, hanya ingin badan terasa lebih sehat. Bukan kenapa-kenapa, banyak orang bilang, kalau makanan itu adalah sumber penyakit. Semakin beragam makanan yang kita makan, maka semakin rentanlah badan kita terhadap penyakit. Jadi dengan mengatur asupan makanan, maka badan kita diyakini akan lebih sehat (mungkin gitu kayanya). Setelah berat badan nyampe 70 kg, target saya hanya akan mencoba menjaga stabilitas badan aja. Tidak berniat untuk lebih turun dari itu, bukan kenapa kenapa, celana dan baju sudah terasa longgar, kalau berat badan tambah turun, dipastikan pengeluaran akan lebih bertambah karena harus beli baju dan celana baru, serta menjahit baju seragam kantor yang baru juga. SEMANGAT SEHAT !
Berinteraksi dengan para pelaksana pembangunan di republik ini ternyata merupakan suatu anugerah tersendiri. Mereka itu adalah para Kepala Desa atau juga sering disebut Pa Lurah atau juga Pa Kuwu. Cara berpikir yang sangat membumi tampak dominan dalam pola pikir dan tindak mereka. Kalau dalam salah tweet nya @pidibaiq  yang tiap pagi Beliau share itu, adalah rasa syukur terhadap-Nya yang telah membuat kita dapat selalu "Tetapkan pikiran kami selalu melangit dan dengan hati yang terus membumi", suatu pernyataan yang belum dapat saya pahami dengan baik. Namun secara sekilas, sepertinya, kata-kata "pikiran kami selalu melangit" nya itu tidak tampak dalam pola pikir para Kepala Desa ini. Manakala saya sempatkan untuk berdiskusi tentang suatu kasus, pikiran mereka tidak melangit, sangat membumi. Berdiskusi dengan banyak kepala desa, adalah suatu kesempatan langka yang dapat saya lakukan. Berdiskusi dengan orang-orang yang berpikir sangat realistis itulah yang (sepertinya) harus lebih sering dilakukan oleh para perencana pembangunan dimanapun berada, sehingga para perencana (seharusnya) tidak terjebak dalam suatu lingkaran pemikiran yang sempit, terdesak oleh kerangka teori dan regulasi yang terlalu mengikat. Karena jika sudah terjebak, maka buah pikir yang dihasilkan hanyalah suatu perencanaan yang "ngawang-ngawang", melangit tidak, membumi pun tidak. SEMANGAT MEMBUMI !
Selalu terngiang - ngiang apa yang pernah dikatakan oleh seorang Negarawan, Gus Dur, "Gitu aja kok repot" atau kalau saya "translate" dalam bahasa ibu, kurang lebih seperti ini "asa teu kudu riweuh". Buat beliau yang pernah menjabat sebagai orang No 1 di negara kita ini, pernyataan seperti itu sepertinya harus bisa diterapkan, dipahami oleh semua orang abdi negara yang ada di republik ini. Kenapa ? karena dengan berprinsip seperti itu, saya yakin, permasalahan yang sesulit apapun, akan terasa lebih mudah dalam memecahkannya. Bukan tanpa sebab, saya melihat ada suatu "keyakinan" diri, ada suatu "kepercayaan diri" dari orang-orang yang bisa berkata seperti itu, bahwa sesulit dan serumit apapun suatu masalah, pasti akan ada solusi atau jalan keluarnya. Jujur, sampai saat ini, saya masih harus belajar untuk bisa berpikir seperti itu. Ketika ada suatu masalah, yang masih sering muncul adalah rasa panik yang justru tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru. Seperti saat sekarang ini, yang ada hanyalah rasa takut manakala di hari libur terdengar nada dering telp dari 2 orang atasan yang pastinya akan ada suatu tugas lain yang harus dijalankan. Kemudian datanglah sebuah sms, yang meminta untuk turut serta melaksakan tugas mulia. Subhanallah.....saya sangat perlu SEMANGAT TERBARUKAN !!


Riweuhnya skolah TK jaman skarang...

Wednesday, December 12, 2012



Waktu jaman aq TK kayaknya gak ada yang namanya ujian2. Mengenal ada UTS or UAS aja pas udah kuliah. Tapi skolah bocah jaman skarang dari anak PG aja udah ada yang namanya ujian. Waktu Tabee PG emang udah pernah ujian, tapi dulu kan materinya gak begitu banyak dan terbilang mudah. Brikut anaknya masih nurut karna belum terkontaminasi sama hal2 yang aneh (hehehe…). Tapi kalo skarang, walaupun baru TK A srasa dah punya gadis remaja #meungpeun#. Pergaulan anak skarang memang jauh dari masa qta dulu. Anak skarang emang gaul2 dan kritis2. Smua ditanyain, smua pengen tau. Kalo dilarang kayaknya gak bisa langsung nurut tapi punya kewajiban nanya knapa itu gak boleh.

Alhasil, karena jamannya berbeda, cara belajar n ngajarin juga jadi satu masalah besar buat para ortu. Kaget juga, ktika pas ujian praktek, anak2 disuruh bawa kacang ijo+kacang merah yang disimpen diatas kapas basah dan dimasukin ke gelas. Kalo gak salah, dulu aq praktek beginian SD kelas 3 deh. Emang kurikulum pendidikan di Indonesia udah rubah sedrastis ini ya?

Balik lagi ke masalah belajar mengajar anak TK skarang, tentunya bikin para ortu ikut sutres. Kalo dari crita temen2 sesama ibu2 yang anaknya lagi menghadapi ujian, tampaknya mreka sampe gak bisa tidur mikirin ujian anak. Bener loh, krasa banget stress ngajarin anak. Mungkin ortu qta juga dulu gitu kali ya? Stress mikirin qta yang mau pada ujian. Skarang giliran qta nih dibikin sutres sama bocah2 ini.
Kisi2 ujian TK A Tabee sekitar 6 (enam) lembar. Ujiannya 5 (lima) hari aja. Tapi udah bikin aq juga harus ikut menghapal, trutama pelajaran agama. Wahhhh…anak TK skarang harus hapal 10 surat pendek, 20 hadis pendek, arti dari nama surat2, hapal tata cara solat beserta doanya, sama hafalan Mahfudzot (buat tau arti ini aq harus goggling dulu…hehehe). Kosa kata nya 30 yang harus hapal dalam 3 bahasa (sunda, arab, inggris) dan ujian2 praktek tentunya.

Haduhhh…srasa aq harus blajar juga nih. Udah gitu Tabee blajarnya semaunya banget (sembari lari sana sini). Bikin darting srumah trutama neneknya. Tapi emang sih di kertas kisi2 ujian sudah di tulis bahwa untuk anak TK A tidak usah dipaksakan belajar, karena akan di ulang di TK B. Tapi tetep yaaaa yang namanya ortu pengen anaknya pinter. Padahal gak gitu juga kali ya. Kalo crita dari temen aq yang ada di Belanda, katanya di sana anak SD kelas 1-3 itu gak belajar, tapi mainnnn kayak anak TK. Blajarnya mulai kelas 4 dan itu dasar banget. Mreka mulai blajar baca aja kelas 4 SD. Emang pas SMP apalagi kuliah mreka digenjot abis, tapi energy mreka sangat besar karna gak tergerus sewaktu pendidikan dasar. Nahhh, kalo di Indonesia kan kompetisi banget nihhhh. Anak SD harus sudah berprestasi, apalagi jaman aq dl kan masih pake ranking (kalo skarang katanya dah engga ya? Tapi gak tau juga sih). Ibu aq dulu slalu bilang, kalo ranking 1 baru dibeliin boneka. Emang sih ranking 1 mulu, tapi gak tau tuh dulu motivasinya apa? Apa karna boneka or emang aq pinter (xixixiixix).

Skarang, tinggal binun nya…tar SD mu kemana? (cari info dulu ahhhh…walopun masih staun lagi…xixiixix)
 

Talbeeya El-Shafa putri bunda…slamat ujian yaaa…smoga Tabee jadi anak yang cerdas...




[AbaTabee] Resi Bisma

Saturday, November 17, 2012

Disaat merasa ajalnya sudah dekat, Resi Bisma meminta salah seorang pengawalnya untuk menyampaikan pesan kepada para Pandawa agar datang ke Kurusetra. Saat itu, kondisi Resi Bisma sudah sangat melemah, setelah puluhan anak panah Srikandi menancap di tubuhnya. Perang Bratayudha baru saja usai. Resi Bisma merupakan leluhur Pandawa dan Kurawa yang menjadi salah satu korban dari perang hebat yang berlangsung selama 20 hari itu. Resi Bisma sangat dihormati oleh Pandawa dan Kurawa, karena sejatinya Resi Bisma adalah Raja Hastinapura yang sesungguhnya. Seorang pemimpin yang sakti, namun bijaksana. Dia sangat tahu bagaimana Kurawa mendazalimi Pandawa, sangat tahu siapa yang paling benar antara Pandawa ataupun Kurawa, namun ketika Bratayudha terjadi, Resi Bisma bisa memisahkan antara logika berpikir dan rasa tunduk kepada takdir yang telah ditetapkan. Resi Bisma tetap berperang melawan Indrapasta, tapi berperang untuk Hastinapura tapi bukan untuk Kurawa, dan para Pandawa sangat tahu akan hal itu, sehingga Pandawa masih sangat menghormati Resi Bisma. 
Bratayudha bagaikan kumpulan jutaan takdir para pengikut Pandawa dan Kurawa. Takdir bagi seorang Gatotkaca yang sangat tahu bahwa dia akan mati dalam peperangan ini karena harus menjadi perisai bagi pamannya Arjuna dalam menghadapi kesaktian Adipati Karna yang juga gugur, takdir buat seorang Arjuna yang harus kehilangan anaknya, Abimanyu, takdir buat seorang Resi Dorna  yang harus menjalani hukuman setimpal karena kelicikan akal bulusnya, takdir kematian buat Duryudana dan Dursasana serta seluruh kurawa lainnya yang telah berbuat licik kepada Pandawa selama hidupnya, serta juga merupakan takdir buat seorang Resi Bisma, sebagai seorang satria yang harus mati dalam peperangan. 
Tapi di balik perang Bratayudha tersebut, sesungguhnya yang paling diuji dalam kesabaran, adalah Ibunda dari Pandawa, Dewi Kunti, dan Ibunda dari Kurawa, Dewi Ghandara. Bagaimana tidak, seorang Dewi Kunti dan Dewi Ghandari, melihat seluruh anaknya, cucunya dan seluruh keturunannya saling berperang, sedangkan Dewi Kunti dan Dewi Ghandari berada dalam satu Istana yang sama, duduk berdampingan, bersikap saling menghormati, saling menghargai. Ketika Bratayudha selesai, Dewi Kunti kemudian meminta maaf kepada Dewi Ghandari karena Kurawa, anak Dewi Ghandari, yang berjumlah 99 orang, semuanya tewas terbunuh dalam peperangan. "Itu mungkin sudah takdir dari dewata" ujar Dewi Kunti kepada Dewi Ghandari. Tak lama setelah Bratayudha, Dewi Kunti dan Dewi Ghandari beserta Prabu Destarata kemudian mengasingkan diri bersama, bersemedi, hingga mereka kemudian meninggal bersama.
Setengah berlari, pengawal Resi Bisma menuju ke Indrapasta, kemudian menyampaikan amanat Resi Bisma kepada Yudistira. Tanpa berpikir panjang, seluruh Pandawa ditemani oleh Sri Kresna, menuju ke Kurusetra. 
Sesampainya disana, mereka melihat Resi Bisma masih dalam kondisi tergeletak di tanah, dengan tubuh dipenuhi anak panah Srikandi, Kemudian mereka memberi hormat dan duduk disebelah Resi Bisma. Setelah itu, Resi Bisma menyampaikan kepada Pandawa bahwa ajalnya akan segera tiba, dan ingin memberikan 2 buah nasihat, khususnya kepada Yudistira, yang akan menjadi Raja, pemimpin Hastinapura. Nasihat Resi Bisma itu dikiaskan dalam 2 buah cerita yang intinya agar Yudistira dapat menyayangi rakyat kecil dan harus bijaksana sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan seluruh kebutuhan rakyatnya. 
Melihat semuanya sudah tertidur lelap, Udin kemudian menutup pintu kamar anak-anaknya itu. Udin selalu bersemangat bercerita tentang dunia perwayangan kepada anak-anaknya, hal ini bukan tanpa sebab, Udin pada saat masih kecil, begitu terpukau dengan cerita dunia pewayangan, sebuah dunia yang begitu tampak nyata karena dapat melukiskan tata nilai perilaku manusia dalam bernegara, dalam bermasyarakat, dan dalam menyikapi berbagai persoalan hidup di dunia, sehingga nilai-nilai kebaikan dalam dunia pewayangan itu yang Udin coba ceritakan kepada anak-anaknya sebagai dongeng sebelum tidur.
Malam itu, Udin sangat lelah, pekerjaan yang begitu banyak, seakan menguras tenaga dan pikirannya. Namun, hari itu, tidak mungkin dapat Udin dapat lupakan, karena Udin sudah mendapatkan porsi keberangkatan haji ke tanah suci, Alhamdulillaah. Walau harus menunggu selama 7 tahun, mungkin itu adalah waktu yang telah Allah berikan agar Udin dapat lebih meningkatkan ketakwaannya, sehingga dapat "lulus" menghadapi segala cobaan dan menjadi haji yang mabrur. 
Jam di kamarnya sudah menunjukan pukul 22.30, Udin segera memasang alarm pada pukul 03.15 dan Udin pun tertidur.
16 November 2012
 

[AbaTabee] Undangan

Saturday, November 10, 2012

Udin sedang menunggu nomor antriannya dipanggil. Siang ini, Udin akan ngebuka rekening di salah satu bank syariah yang membuka cabang di kota tercintanya. Wajah Udin nampak berseri-seri, gurat kebahagiaan tidakdapat disembunyikan dari wajahnya. Ya, hari ini, Udin akan membuka rekening di Bank, tapi bukan rekening biasa, tapi rekening tabungan buat Udin naik haji, menjalankan rukun Islam ke lima ke Baitullah, Mekkah al mukarommah, memenuhi undangan dari-Nya. Buat Udin, bisa pergi ke tanah suci itu merupakan salah satu cita-cita hidup yang sudah dinanti-nanti dari sejak dahulu.
Jadi, saat semalam istrinya berkata, "Abi, sepertinya tabungan kita sudah mencukupi buat menjadi dana awal membuka rekening haji, jadi kapan Abi mau daftar hajinya ?" mendengar pertanyaan istrinya itu, Udin terdiam sesaat, berusaha untuk mengatur kesadaran diri, menahan luapan rasa di dada yang justru membuat dada terasa sesak. "Alhamdulillaah, saat - saat seperti ini datang juga" gumam Udin dalam hati. Lalu setelah Udin merasa tenang, lalu dia menjawab pertanyaan istrinya tadi, " Insya Allah secepatnya Nda, mudah-mudahan minggu ini bisa langsung daftar ke kantor Departemen Agama". 
Selesai menjawab pertanyaan istrinya itu, tidak lantas Udin menjadi tenang, tapi justru Udin masih merasa tidak percaya, kalau kesempatan buat naik haji itu akhirnya datang juga. Meski untuk di kota tempat tinggal Udin, antrian kuota naik haji saat sudah menginjak tahun ke 7, maksudnya jika Udin daftar haji tahun ini, mungkin baru bisa berangkat pada tahun 2019 nanti. 
Menurut salah satu referensi, meningkatnya antrian kuota haji ini, dimulai saat adanya skema kredit dari     bank - bank syariah dengan sebutan "dana talangan haji", sehingga seseorang yang sudah mempunyai dana awal yang cukup (biasanya 20% dari ongkos naik haji), sudah dapat membuka rekening haji. Kemudian, Bank akan menutupi terlebih dahulu sisa ONH nya, agar nasabahnya sudah bisa mendapatkan jatah kuota naik hajinya. Kalau sebelumnya, biasanya tidak terjadi antrian kuota haji ini, jadi saat kita daftar ke DEPAG, biasanya pada tahun yang bersangkutan juga sudah bisa naik haji. Pengajuan persyaratan dana talangan haji ke bank itu sangat mudah, hanya tinggal membawa fotocopy KTP, kartu keluarga dan kartu menikah (buat yang sudah menikah). Udin pun memanfaatkan fasilitas dana talangan haji tersebut. Untuk bank yang Udin pilih, Bank Syariah Mandiri, minimal setor uang pertama ke bank tersebut adalah Rp.5.850.000,- selanjutnya, BSM akan menutupi sisa ONH nya, dan dapat dicicil sampai dengan 3 tahun.  
Uang 6 juta sudah ada di tangan Udin. Buatnya, uang sebesar itu adalah uang yang sangat besar, dengan penghasilannya yang pas-pasan dengan segala kebutuhan hidupnya, maka bisa menabung dari sedikit penghasilannya adalah hal yang luar biasa. Sudah seharusnya, Udin sangat bersyukur karena istrinya dapat mengelola keuangan rumah tangganya dengan sangat baik. 
"Nomor antrian B 080, silakan menuju counter 2" terdengar suara dari mesin antrian yang langsung membuyarkan lamunan Udin. Mendengar nomor antriannya dipanggil, Udin segera bangkit dari tempat duduknya, trus berjalan menuju meja customer service. Ruangan di bank yang begitu hening bagi orang-orang disana, terdengar sangat berbeda bagi Udin. karena sesaat Udin berdiri dan kemudian berjalan, entah kenapa, suasana seketika berubah, telinganya langsung mendengar ratusan bahkan ribuan orang melantunkan talbiyah dengan bersuara kencang tapi tidak berteriak, berirama dengan suara penuh makna yang sangat dalam.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”
7 November 2012


[AbaTabee] Bela dan Bella

Friday, November 9, 2012

Jangan pernah menyalahkan kata dari yang mulut anda keluarkan dan bahasa dari yang lidah anda suarakan. Karena pada dasarnya bahasa yang kita gunakan adalah suatu konfigurasi antara lidah dan mulut. Entah apa yang salah, kenapa orang Sunda begitu susah menyebut huruf 'F" dan "V" dengan baik dalam percakapan, dan juga orang suku batak hanya bisa berucap huruf "e" seperti e dengan accent taigu dalam bahasanya Zinedine Zidane.
Satu hal yang selalu saya ceritakan ke setiap orang adalah pengalaman berada dalam 2 organisasi yang hanya berbeda huruf awal, tapi dengan objek yang sama, lalu kedua organisasi itu dapat berjalan beriringan tanpa memperdulikan perbedaan. Objek organisasi itu adalah antara kata Perancis dan Prancis. Tahun 1999,  ketika pertama kali menginjakan kaki di Fakultas Sastra, hati langsung tergelak, menahan senyum terkulum manakala melihat di salah satu ruangan  himpunan mahasiswa, disana tertulis : HIMAPRA, Himpunan Mahasiswa (Bahasa) Prancis dan HIMAPER,  Himpunan Mahasiswa (Sastra) Perancis wkwkwkwk, sangat kreatif. Lalu kemudian, karena saya masuk di sastra Perancis, maka saya masuk menjadi anggota HIMAPER, bukan HIMAPRA. Tapi selama beraktivitas di situ, belum pernah ada sekalipun orang - orang mempermasalahkan hal ini, bahkan mahasiswa sastra Indonesia sekalipun, tidak pernah saya dengar membahas perbedaan Perancis dan Prancis, apa mungkin memang tidak peduli atau memang kata Perancis dan Prancis, dapat digunakan dua-duanya. Moga dugaan saya yang terakhir yang benar.
Coba juga perhatikan tajwidz yang dulu kita pernah pelajari saat masih kecil, saat memulai belajar mengaji. Guru mengaji mengajarkan satu rumus, yaitu iqlab, dimana apabila ada huruf nun mati bertemu dengan huruf "ba", maka nun tersebut berubah menjadi huruf "m", misalnya "min ba'di, maka dibacanya adalah "mim ba'di". Namun ternyata, kalau kita perhatikan dalam bahasa percakapan sehari-hari, khususnya dalam bahasa sunda, terdapat suatu kebiasaan dimana sebuah suku kata yang dimulai m, biasanya jadi diikuti oleh huruf "B". Saya ambil contoh, "samoja" menjadi "samboja"; "selimut" menjadi "selimbut", ada juga contoh2 kata-kata lain, coba anda cari sendiri hihihi.......... Sedangkan buat para ustad, coba anda perhatikan, jika mereka mengucapkan kata yang ada huruf P, pasti akan terdengar seakan-akan mereka berkata dengan huruf "F", hal ini (mungkin) karena dalam bahasa arab tidak ada kata dengan huruf "P", tapi yang ada adalah dengan "f". Hal ini yang saya sering dengar saat Pa Nana, guru ngaji saya, menasihati agar "tidak lufa sholat lima waktu" (menggunakan huruf "f" pada kata "lupa") hihihi. 
Lalu, coba anda suatu waktu datang mengunjungi salah satu sekolah dasar di kota-kota di Jawa Barat pada hari Senin Pagi, disaat mereka sedang melaksanakan upacara bendera. Jangan anda terheran-heran, jika anda tidak mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan pada saat pengibaran bendera. Tapi yang akan anda dengar adalah lagu "Endonesia Raya" dengan huruf 'E".
Gak adil lah bagi kita untuk mempermasalahkan kebiasaan berbahasa dengan bagaimana seharusnya kita berbahasa. Tapi satu hal yang harus dipahami, satu huruf yang berbeda, dapat memberi arti yang berbeda. Wajarlah jika "Aqua" protes terhadap produsen air mineral yang ber merk "Agua", dan produsen celana jeans "Levi's Strauss" berang menemukan sebuah celana jeans dengan brand "Lepis" hihihi. 
Jadi wajarlah jika seorang Bela kemudian sering protes jika ada seorang kawan menulis namanya dengan huruf double L, menjadi "Bella", bukan gimana gimana, tapi rasanya tidak pantas, jika seorang manusia bernama "Bella" tapi ternyata brewokan dan berjanggut. 

29 Oktober 2012
at

ala bumbaaa... Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template for Bie Blogger Template Vector by DaPino